Aceh Barat – Tim gabungan yang terdiri dari personel Polres Aceh Barat, BPBD, TNI, dan masyarakat kembali melanjutkan kegiatan pemadaman dan pendinginan terhadap kebakaran lahan sawit milik warga di wilayah Gampong Meunasah Gantung, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, pada Kamis (29/01/26) pagi.
Kegiatan dimulai sekira pukul 10.00 WIB setelah petugas menerima laporan adanya titik panas (hotspot) yang terdeteksi melalui aplikasi Lancang Kuning. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai dua hektare dan hingga kini upaya pemadaman masih terus dilakukan oleh personel gabungan.
Kebakaran tersebut diketahui menjalar ke area perbatasan antara Gampong Meunasah Gantung, Meunasah Rambot, dan Putim, Kecamatan Kaway XVI. Lokasi kebakaran berada di area lahan kosong yang sulit diakses karena jaraknya sekitar empat kilometer dari jalan utama. Selain itu, kondisi lahan yang berupa gambut turut menjadi kendala karena mudah terbakar dan sulit dipadamkan secara menyeluruh.
Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, S.I.K., M.I.K., melalui Kapolsek Kaway XVI, AKP Fahrinaldi, menyampaikan bahwa kegiatan pemadaman ini merupakan bentuk kesigapan aparat dalam merespons laporan masyarakat dan hasil deteksi dini dari sistem pemantauan titik panas. “Sejak pagi tim gabungan sudah bergerak ke lokasi untuk memadamkan api. Fokus utama kami adalah mencegah api agar tidak meluas ke perkebunan warga lainnya. Saat ini kondisi di lapangan sudah mulai terkendali, namun proses penyiraman dan pendinginan masih terus dilakukan untuk memastikan bara api benar-benar padam,” ujar AKP Fahrinaldi.
Adapun unsur yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi Kasat Polairud Polres Aceh Barat bersama anggota, personel Polsek Kaway XVI, anggota Koramil 03/Kaway XVI, petugas BPBD Aceh Barat, serta masyarakat dari Gampong Meunasah Gantung, Meunasah Rambot, dan Putim. Semua pihak bekerja sama bahu membahu memadamkan sisa-sisa api yang masih muncul di sejumlah titik rawan.
Kendala utama yang dihadapi di lapangan selain jarak tempuh adalah minimnya sumber air di sekitar lokasi serta jenis lahan yang didominasi gambut. Meski demikian, tim gabungan terus berupaya maksimal menggunakan mesin semprot air portabel dan peralatan manual untuk menahan penjalaran api.
AKP Fahrinaldi menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan di sekitar lokasi hingga benar-benar aman dan bebas dari potensi kebakaran ulang. “Kami terus berkoordinasi dengan BPBD dan pihak TNI untuk memastikan tidak ada sisa bara yang dapat memicu api kembali. Selain itu, kami juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apapun karena dapat membahayakan lingkungan dan berdampak hukum,” tegasnya.
Hingga Kamis siang, kegiatan pemadaman dan pendinginan masih terus berlangsung. Situasi di lapangan berangsur kondusif meskipun tim gabungan tetap bersiaga mengantisipasi perubahan arah angin atau munculnya titik api baru. Warga di sekitar lokasi juga turut membantu proses penyiraman dengan peralatan seadanya.
Polres Aceh Barat memastikan akan terus melakukan pemantauan melalui patroli terpadu serta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, upaya penegakan hukum akan diterapkan terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja membuka atau membakar lahan tanpa izin.
Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, juga menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama seluruh pihak di lapangan yang telah berjuang menanggulangi kebakaran ini. Ia menegaskan bahwa upaya pemadaman bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. “Kami berharap masyarakat semakin sadar akan dampak besar karhutla terhadap kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Mari bersama mencegah dan menjaga alam agar tetap lestari,” ujarnya dalam keterangan terpisah.
Dengan sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat, diharapkan kebakaran lahan di wilayah Kecamatan Kaway XVI dapat segera ditangani sepenuhnya serta tidak menimbulkan dampak lanjutan bagi kehidupan sosial dan lingkungan di Aceh Barat.










































