Polisi Hadir di Tengah Pengajian Beut Panteu Keude, Warung Kopi di Samatiga...

Polisi Hadir di Tengah Pengajian Beut Panteu Keude, Warung Kopi di Samatiga Jadi Ruang Dakwah

1
0
SHARE

Aceh Barat – Kehadiran polisi di tengah masyarakat tak selalu dalam situasi penanganan gangguan keamanan. Di Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, polisi ikut hadir dalam kegiatan keagamaan yang digelar dengan cara berbeda: pengajian di warung kopi.

Kegiatan bertajuk Beut Panteu Keude itu berlangsung di Warung Kopi UD. Aris, Gampong Leukeun, Kecamatan Samatiga, Rabu (12/8/2026) malam. Suasana warung kopi yang biasanya dipenuhi obrolan warga berubah menjadi tempat menimba ilmu agama.

Kapolsek Samatiga Iptu Ade Haidir, S.H., hadir dalam pengajian tersebut bersama Kakankemenag Aceh Barat Khairul Azhar, S.Ag., M.A., perwakilan Rektor UTU Fitriadi, Kepala KUA Samatiga, tokoh agama, mahasiswa KKN UTU dan masyarakat setempat.

Kapolres Aceh Barat AKBP Agus Sulistianto, S.H., S.I.K., melalui Kapolsek Samatiga Iptu Ade Haidir, S.H., menilai pendekatan seperti Beut Panteu Keude memiliki nilai positif karena mempertemukan pesan keagamaan dengan ruang sosial yang sehari-hari digunakan masyarakat.

“Pengajian seperti ini sangat baik karena masyarakat bisa mendapatkan pemahaman agama dalam suasana yang santai dan dekat dengan kehidupan mereka. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi dan komunikasi,” ujar Iptu Ade Haidir.

Bagi kepolisian, kedekatan dengan masyarakat merupakan bagian dari upaya membangun keamanan yang tidak hanya bertumpu pada tindakan ketika terjadi persoalan. Komunikasi yang terjalin dalam berbagai aktivitas warga dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

“Polisi tidak hanya hadir ketika ada persoalan. Kami juga ingin hadir dalam kegiatan-kegiatan positif masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan seperti ini,” katanya.

Beut Panteu Keude digagas Ketua IPMS Kecamatan Samatiga bersama Pimpinan Dayah Arraudhatul Mustafawiyah Tgk. Miswar. Pengajian tersebut secara rutin digelar di warung kopi dengan pendekatan yang sederhana dan terbuka bagi masyarakat.

Tgk. Miswar, S.Sos., M.Sos., menjadi pemateri dalam pengajian malam itu. Pembahasan diarahkan pada pemahaman nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep pengajian di warung kopi membuat dakwah terasa lebih membumi. Warga tidak harus datang ke tempat khusus untuk mendapatkan ilmu agama, tetapi dapat mengikuti pengajian di tengah lingkungan sosial yang sudah akrab dengan keseharian mereka.

Minat warga untuk mengikuti Beut Panteu Keude juga disebut terus meningkat. Kehadiran tokoh agama, unsur pemerintah, akademisi, mahasiswa dan kepolisian membuat kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum pengajian, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat.

Bagi Polsek Samatiga, ruang-ruang perjumpaan seperti itu menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi langsung dengan warga sekaligus menjaga hubungan kemitraan dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.

Di tengah rutinitas masyarakat, sebuah warung kopi malam itu pun mengambil peran lain: menjadi tempat warga berkumpul, berdialog dan belajar agama bersama.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY